Kalender Jawa Asopon Karya Johan Hudaya Dan Witono



Menurut Susiknan Azhari kalender adalah sistem pengorganisasian satuan-satuan waktu, untuk tujuan penandaan serta perhitungan waktu dalam jangka panjang[1]. Dalam penanggalan terdapat daftar hari dalam bulan, almanak dan takwim. Jadi penanggalan juga berarti kalender, yang dipergunakan untuk perhitungan dalam menentukan hari-hari tertentu yang berkaitan dengan ibadah.
Kalender Abadi asopon merupakan sebuah kalender praktis yang disusun pada tahun 2011, oleh seorang intelektual, yaitu disusun oleh Johan Hudaya dan Witono. Menurut penulis, minimnya ketertarikan masyarakat
Jawa saat ini terhadap perhitungan penanggalan Jawa disebabkan asumsi mereka bahwa terdapat perhitungan yang rumit dalam penanggalan Jawa. Disamping itu lebih populernya penanggalan masehi dan hijriah daripada penanggalan jawa dalam aktifitas kehidupan masyarakat Jawa. Pendapat penulis dibenarkan oleh Johan Hudaya, kebanyakan hanya bejonggo[2] saja yang cenderung mempelajari dan memahami konsep penanggalan Jawa. Oleh karena itu, Witono menyusun Kalender Abadi Asopon guna mempermudah dalam menentukan hari dan pasaran.[3]
Johan Hudaya mulai tertarik untuk menyusun kalender ini setelah dinyatakan lulus dari nyantri di Pondok Pesantren Hidayatut Thulab, Kamulan, Durenan, Trenggalek dari tahun 2004 sampai 2012, juga sekaligus putra dari Wetono. Sedangkan Wetono yang lahir di Ponorogo, 30 Juni 1949 ini sudah mulai meneliti dan mempelajari tentang penanggalan asopon sejak 20 tahun yang lalu melalui Bejonggo dan juga kalender-kalender mulai tahun 1980-an sampai sekarang. Sehingga ia berinisiatif untuk menyusun Kalender Abadi Asopon, dengan dibantu oleh putranya Johan Hudaya serta ditashihkan kepada Ustadz Mas’ud Shiddiq yang mana beliau adalah ahli falak dan hisab di Pondok Pesantren Hidayatut Thulab Kamulan, Durenan, Kabupaten Trenggalek. 
Kalender Abadi Asopon ini sudah diedarkan dan digunakan di beberapa kecamatan di Kabupaten Ponorogo, terutama kecamatan Mlarak dan Pulung sejak tahun 2011. Menurut penulis, kalender tersebut menggunakan rumus sederhana dalam menentukan hari dan pasaran untuk tahun-tahun yang akan datang maupun yang sebelumnya. Ini yang membedakan dengan kalender-kalender asopon pada umumnya yang kebanyakan hanya menentukan dalam satu tahunan saja.
Secara keseluruhan, Kalender Abadi Asopon ini  berbentuk sederhana yang terbagi menjadi empat bagian, yaitu; bagian penunjuk tahun, bagian penunjuk bulan, bagian penunjuk tanggal, dan bagian penunjuk hari pasaran.
a.       Bagian Bagan Tahun
Pada bagian tahun terdapat delapan kolom nama tahun, dimulai dari tahun Alif, tahun Ha’, tahun Jim Awal, tahun Za’, tahun Dal, tahun Ba’, tahun Wawu, dan tahun Jim Akhir. Dimulai dari tahun 1419 H sampai 1503 H.
b.      Bagian Bagan Bulan
Kemudian pada bagian bulan berbentuk lingkaran dengan kolom-kolom didalamnya ada dua belas bulan kamariah, dimulai dari bulan Syawal, Ba’da Mulud, Selo, Jumadil Awal, Besar, Jumadil Akhir, Rejeb, Suro, Ruwah, Sapar, Romadhon, dan Mulud.
c.       Bagian Bagan Tanggal
Kemudian pada bagian tanggal juga berbentu lingkaran dengan kolom-kolom dimulai dari tanggal satu sampai tanggal tiga puluh.
d.      Bagian Bagan Hari dan Pasaran
Kemudian pada bagian hari dan pasaran terdapat tiga puluh lima kolom dengan masing-masing berisi nama hari dan pasaran, 




[1] Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, cet II, hlm. 115
[2] Menurut keterangan Witono, Bejonggo adalah seseorang yang dipercaya oleh masyarakat Jawa untuk menentukan hari baik dalam hal-hal tertentu, seperti hari pernikahan, bepergian jauh, dsb.
[3] Wawancara bersama Johan Hudaya dan Witono pada tanggal 9 Desember 2013 di rumahnya Dsn Gunting, Ds. Suren, Kec. Mlarak, Kab. Ponorogo.

No comments

Powered by Blogger.