Perkembangan Kalender Saka
Eksistensi Tahun Saka di India merupakan
tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India . Sebelum lahirnya Tahun Saka,
suku bangsa di India
dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara
lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut
silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka
benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian
dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi
perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup
berhasil, maka suku Bangsa Saka dan
kebudayaannya benar-benar memasyarakat.
Tahun
125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India .
Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku
bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya
bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu
dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India
dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan
kerajaan (negara).
Pada
tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi
mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Sejak
itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama di India ditata
ulang. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari
kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari
toleransi, dan hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Akibat toleransi dan persatuan itu,
sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.
Awal
setiap bulan adalah saat konjungsi, sehingga tanggal kalender Saka
umumnya lebih dahulu sehari dari tanggal kalender Hijriyah yang diawali
munculnya hilal. Setiap bulan dibagi menjadi dua bagian yaitu suklapaksa
(paro terang, dari bulan mati sampai purnama) dan kresnapaksa (paro
gelap, dari selepas purnama sampai menjelang bulan mati). Masing-masing bagian
berjumlah 15 atau 14 hari (tithi). Jadi kalender Saka tidak mempunyai tanggal
16. Misalnya, tithi pancami suklapaksa adalah tanggal lima , sedangkan tithi pancami kresnapaksa
adalah tanggal dua puluh.
Konsep
sunya (kosong) dalam ajaran Hindu mendasari kalender Saka untuk menghitung
tahun dari Nol. Tanggal 1 Caitra tahun Nol bertepatan dengan tanggal 14 Maret
78. Tahun baru 1 Caitra 1932 jatuh pada tanggal 16 Maret 2010. Di Indonesia
kita mengenal tahun baru Saka sebagai Hari Raya Nyepi.
Sebuah
tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
1. Srawanamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Juli-Agustus atau bulan Jawa/Bali Kasa
2. Bhadrawadamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Agustus-September atau bulan Jawa/Bali Karo
3. Asujimasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan September-Oktober atau bulan Jawa/Bali Katiga
4. Kartikamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Oktober-November atau bulan Jawa/Bali Kapat
5. Margasiramasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan November-Desember atau bulan Jawa/Bali Kalima
6. Posyamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Desember-Januari atau bulan Jawa/Bali Kanem
7. Maghamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Januari-Februari atau bulan Jawa/Bali Kapitu
8. Phalgunamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Februari-Maret atau bulan Jawa/Bali Kawolu
9. Cetramasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Maret-April atau bulan Jawa/Bali Kasanga
10. Wesakhamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan April-Mei atau bulan Jawa/Bali Kasepuluh/Kadasa
11. Jyesthamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Mei-Juni atau bulan Jawa Dhesta atau Bali Desta
12. Asadhamasa, kurang lebih
bertepatan dengan bulan Juni-Juli atau bulan Jawa Sadha atau Bali Desta
Dengan demikian kalender Saka
mempunyai nilai sejarah yang tinggi dan bermakna dan mempunyai kedudukan
penting terhadap beribadatan bagi umat Hindu di India Pada saat itu

Leave a Comment