Salah Satu Puisi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
Cak Nun adalah seorang penulis buku dan aktif di kelompok musik
arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu-lagu sholawat
nabi dan syair-syair religius yang bertema dakwah. Selain itu, Cak Nun
rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat
Padang Bulan di berbagai daerah.
Cak Nun belajar sastra pada guru yang
dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius,
dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975. Ia pun
gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak
Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980),
International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival
Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival
Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Di bawah ini adalah salah satu puisinya yang menurut saya sangat luar biasa, dari sudut pandang
emosi, satir, dan pemilihan kata-kata yang jujur tingkat jenius.
Orang bijak mengatakan
Kucari sepuluh tabiat pada sepuluh alamat
Namun kesemuanya justru kutemukan di lain
tempat
Kucari kehormatan pada kesombongan
Namun justru kutemukan pada rendah diri
Kucari pengabdian dalam shalat
Namun justru kutemukan dalam mawas diri
Kucari kesejahteraan dalam limpahan harta
Namun kutemukan pada hidup sederhana
Kucari cahaya hati pada shalat siang hari
Namun kutemukan pada shalat malam hari
Kucari cahaya Kiamat dalam berderma
Namun kutemukan pada laparnya puasa
Kucari cara melewati shirath dalam kurban
Namun kutemukan pada sedekah
Kucari selamat dari neraka dalam hal-hal yang
diperbolehkan
Namun kutemukan dalam meninggalkan nafsu
keinginan
Kucari cinta Allah dengna meninggalkan harta
benda
Namun kutemukan pada banyak berdzikir kepada
Nya
Kucari ketenangan lewat diskusi-diskusi
Namun kutemukan pada sikap menyendiri
Dan kucari pelita dalam nasihat dan baca al
Qur'an
Namun kutemukan dalam tafakur dan tangisan.
GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari Mu
takkan tertandingi
GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu malu
GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah Mu
GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan Mu ?
GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal
GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti


Leave a Comment