ALIN YUAROS
Memang tergurat banyak cerita bila ditulis diatas kertas, tapi yang tertulis hanya kekecewaan dan sakit hati. Pukul 05.00 sore itu aku coba tulis apa yang sudah kurenungkan dalam beberapa menit terakhir. Pena yang sudah terpegang jari-jariku mulai menari-nari dan terus menari diatas kertas lipat yang biasa aku bawa kemanapun aku pergi. Hampir beratus-ratus lembar menumpuk tanpa hasil yang jelas. Tapi sore itu terlihat jelas oleh mataku seorang bidadari, yang tak pernah mengenalku, tapi kumengenalnya.
Penaku semakin liar menari!
Ia
adalah wanita dari kesekian wanita yang kucintai. saya mulai mengenalnya sejak
kepindahan kuliahku. Mungkin ia masih mengenalku kalau ingat, waktu itu ia
bersama temanya sedang naik bus menuju kampus, kebetulan aku juga didalam bus
dan ternyata temanya mengenalku dan memanggil namaku. Semoga ia mendengarnya. Aku
hanya bisa mencintai tanpa memiliki. semuanya seakan-akan mustahil menjadi
milikku. Entah kata-kata motivator yang mana, sehingga aku bisa sepercaya diri
saat ini. Hasratku supaya lekas memperkenalkan diriku padanya semakin tak
tertahan lagi. Secepat mataku, tanganku mengambil handphone yang dari tadi
menunggu jejak perjuangan cinta. Tanganku gemetar menulis salam padanya. Hatiku
meyakinkan ‘aku pasti bisa’. Hampir satu jam aku menunggu balasan salam
darinya, terburu suara adzan maghrib seolah menyela mengiringi kecewaku. Gelas
yang terisi kopi panas itu tiba-tiba mulai membeku terselimuti putih lembutnya
es. Tak ada salju tapi terasa salju terintik kecil disekitarku. Hawa dingin
menyeruak-ruak kedalam pori-pori hatiku. Aku terjaga, kaget seketika wajahku
basah oleh rintik hujan petang nan indah. Tetes hujan berusaha menyadarkanku,
mengingatkanku.


Leave a Comment