ALIN YUAROS

Sadarkan, siapa aku?

Sudah biasa aku merenung mencari alasan menjalani hidup. Sering juga diajak ngobrol untuk membicarakan masalah kehidupan kawan-kawan. Awalnya kupikir aku membicarakan solusi tentang masalah mereka, namun baru kusadari masalah-masalah berdatangan karena kata-kataku.  Lidah bergerak cepat melampaui mulut yang enggan terbuka. Otakku mendesak, melesak ledak, bekerja lebih, demi mencari bagaimana, mengapa, apa, kenapa? Mata selalu melayang-layang mengamati keindahan. Beberapa wajah indah nan cantik terus bermunculan, segalanya serba menyenangkan gerakan bola mata semakin cepat karena tak mau ketinggalan yang terindah, namun akal dan hatiku menolak harapan mata, menyadarkan semua renunganku sore itu.
Memang tergurat banyak cerita bila ditulis diatas kertas, tapi yang tertulis hanya kekecewaan dan sakit hati. Pukul 05.00 sore itu aku coba tulis apa yang sudah kurenungkan dalam beberapa menit terakhir. Pena yang sudah terpegang jari-jariku mulai menari-nari dan terus menari diatas kertas lipat yang biasa aku bawa kemanapun aku pergi. Hampir beratus-ratus lembar menumpuk tanpa hasil yang jelas. Tapi sore itu terlihat jelas oleh mataku seorang bidadari, yang tak pernah mengenalku, tapi kumengenalnya.
Penaku semakin liar menari!
 Ia adalah wanita dari kesekian wanita yang kucintai. saya mulai mengenalnya sejak kepindahan kuliahku. Mungkin ia masih mengenalku kalau ingat, waktu itu ia bersama temanya sedang naik bus menuju kampus, kebetulan aku juga didalam bus dan ternyata temanya mengenalku dan memanggil namaku. Semoga ia mendengarnya. Aku hanya bisa mencintai tanpa memiliki. semuanya seakan-akan mustahil menjadi milikku. Entah kata-kata motivator yang mana, sehingga aku bisa sepercaya diri saat ini. Hasratku supaya lekas memperkenalkan diriku padanya semakin tak tertahan lagi. Secepat mataku, tanganku mengambil handphone yang dari tadi menunggu jejak perjuangan cinta. Tanganku gemetar menulis salam padanya. Hatiku meyakinkan ‘aku pasti bisa’. Hampir satu jam aku menunggu balasan salam darinya, terburu suara adzan maghrib seolah menyela mengiringi kecewaku. Gelas yang terisi kopi panas itu tiba-tiba mulai membeku terselimuti putih lembutnya es. Tak ada salju tapi terasa salju terintik kecil disekitarku. Hawa dingin menyeruak-ruak kedalam pori-pori hatiku. Aku terjaga, kaget seketika wajahku basah oleh rintik hujan petang nan indah. Tetes hujan berusaha menyadarkanku, mengingatkanku. 

No comments

Powered by Blogger.