Kenduri Pak Muhammad

Didepan pelataran sebuah rumah sesudah kenduri karang taruna bersama, beberapa jema’ah kenduri dikumpulkan oleh Pak Muhammad, seorang yang sangat berwibawa dan alim di desa tersebut. Seperti biasanya, Pak Muhammad bukannya hendak memberi ceramah, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan  mengajak para jema’ah untuk tadabbur. 
"Kalau burung dikurung didalam sangkar, andaikan dia bisa berfikir dan berangan-angan," berkata Pak Muhammad  kepada  jema’ah, "apa yang dia inginkan?"
"Bebas," jawab salah satu pemuda pertama dalam jema’ah tersebut.
"Bebas pasti, bentuknya bebas apa?"
"Terbang."
"Kenapa burung ingin terbang?"
"Karena dia tahu bahwa dirinya adalah burung, kalau dia menyangka dirinya tikus maka dia tidak punya keinginan untuk  terbang.”
“Betul, engkau ini bangsa Indonesia, sekarang berada didalam kurungan yang sangat dahsyat. Kurungan dari kebodohan, kurungan dari kejumudan, kurungan dari kemunafikan yang tingkatnya melebihi sepuluh Abu Jahal.” Pak Muhammad berkata pada jema’ah “ lalu cita-citamu apa?”
“ Bebas dari kurungan” jawab pemuda kedua
Kepada  pemuda kedua Pak Muhammad bertanya lagi, " Tapi bentuknya bebasmu itu apa? Bangsa Indonesia punya nggak kata terbang seperti burung.? Kalau burung ingin terbang, kalau engkau ingin apa.?"
"Bermanfaat." Sambung salah satu jema’ah yang berada di sudut paling belakang.
"Bermanfaat, itu masih abstrak. Melacur juga bermanfaat bagi lelaki, ehm... jadi, maksud saya bentuknya terbangmu itu apa?"
"Menjadi diri sendiri."
"Siapakah dirimu?"
"Ciptaan-Nya."
"Itu juga masih abstrak, debu juga ciptaanya, batu ciptaanya, malaikat juga, jin juga  ciptaanya. Lha engkau ini siapa?"
"Khittah."
“Itu lebih abstrak lagi” jawab Pak Muhammad disertai gelak tawa jema’ah. “Yang pasti anda  tidak menemukanya, benar? Karena engkau tidak mengerti siapa dirimu, karena si burung tidak mengerti burungnya. Betul nggak? Lanjut Pak Muhammad.
“Menjadi manusia Pak” sanggah pemuda berbaju hitam yang sedari tadi memerhatikan pembicaraan Pak Muhammad.
“Menjadi manusia, manusia itu apa? Sudah mengerti manusia? Manusia seperti apa, ada definisi genekologi, definisi sosial, definisi  politik, definisi hukum, dan macam-macam lagi. Manusia  mana yang anda maksudkan?  
“Capek deh” keluh salah satu jema’ah, disambut suara tawa seluruh jema’ah.
“Tidak ketemu kan?” sambung Pak Muhammad. “ Karena problem bangsa Indonesia yang nomer satu adalah sama sekali tidak mengerti siapa dirinya. Jadi cita-citanya orang se-Indonesia Cuma satu; punya duit lebih banyak. Betul nggak?”
“Amin..!!” Suara serentak dari bagian tengah jema’ah.
“Lha kan??”

***

“Jadi saya ingin bilang kepada anda, ini pertanyaan sebelum saya menjelaskan sesuatu, saya tanya dulu supaya jalan berfikirnya jelas. Ingat ya... seluruh Indonesia cita-citanya cuma satu; duit lebih banyak, apa itu pengasuh anak yatim, jaksa, pengacara, kyai, sama cita-citanya punya duit banyak. Tidak ada bedanya apa itu ulama’, politisi, atau intelektual. Jadi pemberitahuan saya pertama adalah umat manusia saat ini sedang menjadi bahan tertawaan habis-habisan diantara konselasi semua makhluk-makhluk Tuhan yang ada dalam alam semesta sekarang ini. Anda ini sedang jadi tertawaan habis-habisan, siapakah yang menertawakan anda? nanti saya jelaskan.   Tapi diantara seluruh dunia ini yang paling menjadi bahan tertawaan dari manusia di dunia adalah bangsa Indonesia. Dan diantara bangsa Indonesia ini siapakah kelompok yang paling menjadi bahan tertawaan.?” Tanya Pak Muhammad kepada jemaah dengan penjelasan panjang lebar.
“Elit” Jawab seorang jema’ah.
“Siapa yang menertawakan elit, semua orang ikut mereka”
“Orang Miskin” Jema’ah melanjutkan.
“Menertawakan siapa? Mereka mayoritas kok” Tanggapan Pak Muhammad, “Jangan-jangan kita yang jadi tertawaan di seluruh Indonesia.” Canda Pak Muhammad disertai gemuruh tawa jema’ah.
“Ngapain malam-malam disini, nggak laku di televisi, nggak laku di koran, betul nggak? Anda menjadi bahan tertawaan pertama.”

***

“ Percayalah demokrasi, tetapi waspadalah kepada orang yang bilang demokrasi kepada anda, percayalah toleransi dan pluralisme tetapi hati-hati kalau ada orang ngomong tentang pluralisme. Percayalah Deklaration of Independent Amerika Serikat, tapi waspadalah bila Amerika Serikat ngomong itu kepada anda. Percayalah kepada media massa, kelompok politik kalau ngomong demokrasi kerakyatan, tapi ketika mereka ngomong kepada anda berhati-hatilah. Sebab buktinya anda tidak diterima,  anda ini menerima siapa saja tapi anda tidak diterima oleh siapa saja. Jadi anda ini bahkan ditertawakan oleh siapa saja.”
“Kalau gak gendeng gak duwe  penggawean sopo gelem lungguh bengi-bengi udan-udan.?” Kata Pak Muhammad dengan logat Jawanya.
“Ha ha ha..” Para jema’ah  tertawa cekekehan.
Pak Muhammad beralih pemuda ketiga. "Apakah menurut anda yang ada dalam hidup ini adalah yang tampak oleh mata anda ataukah yang tidak tampak oleh mata anda itu juga mungkin ada?"
Semua jema’ah diam tak ada yang menjawab.
“Anda percaya anda punya nyawa?” lanjut Pak Muhammad.
“Percaya” jawab jema’ah secara bersamaan.
“Lebih penting mana nyawa anda dengan sebelah tangan anda?”
“Nyawa” jawab jema’ah.
“Apakah anda bisa melihat nyawa anda?”
“Tidak”
“Apakah makhluk itu selalu yang bisa anda dengar dengan telinga anda, terlihat oleh mata anda, dan bisa diraba dengan tangan anda? tidak kan?”
“Anda percaya denga sms?” lanjut pak Muhammad.
“Percaya”
“Apakah huruf-huruf itu melayang-layang terus jatuh di HP anda? nggak kan? Sistemnya Transformasi Detransformasi Retransformasi, iya kan? Betul tidak?
“Betul” suara Jema’ah membenarkan.
“Jadi di bumi ini ada makhluk diluar setan, jin, dan malaikat. Percaya nggak kalau ada makhluk yang hidupnya dalam frekuensi?”
“Percaya”
“Jadi dia tidak berupa materi, dalam fisika ada materi, energy, dan cahaya. Lalu lintasnya adalah frekuensi. Yang paling gampang, anda percaya ada makhluk hidupnya di air? Dia tidak perlu bernafas karena memakai insang. Percaya? Tanya Pak Muhammad dengan meyakinkan.
“Percaya”
“Lha siip, jadi jalan berfikirnya sudah jelas. Sekarang saya akan memberi tahu anda bahwa dibawah bumi 400 m ini ada makhluk Allah yang teknologinya seribu kali lipat lebih canggih dibanding teknologi anda manusia.” Tegas Pak Muhammad “Pokoknya dicatet aja, daripada anda nanti  gendeng (JW), lihat saja tulisan itu.
“Ha ha ha ha.......” gemuruh tawa jema’ah mendengar pernyataan pak Muhammad.
“Ada lagi makhluk yang hidup di bumi, dan anda hanya bisa bertemu denganya ketika memasuki sebuah frekuensi dan itu diluar FM atau AM. Mungkinkah ada frekuensi diluar FM atau AM?”
“Mungkin”
“Anda kenal tiga dimensi, mungkinkah ada empat, lima, sepuluh, selaksa dimensi, percaya?”
“Percaya”
“Jadi jangan GR bahwa anda adalah satu-satunya penghuni bumi” lanjut pak Muhammad      “  ini  supaya anda tidak terlalu dijadikan bahan tertawaan oleh makhluk lain”

***

Pak Muhammad menatapkan wajahnya tajam-tajam kepada salah satu jema’ah sambil bertanya “ Mas yang baju hitam, nama bapak anda siapa?”
“Saiful”
“Nama bapaknya bapak anda?”
“Supardi”
“Namanya bapak bapaknya bapak anda?
“Tidak tahu” jawab jema’ah disusul gelak tawa yang lainya.
“Begitu sempit syajaroh sejarah anda.” Kejar pak Muhammad  
“Dulu saya punya rumus agak spekulatif” lanjut Pak Muhammad langsung.
“Tahun tujuhpuluhan orang masih punya ruang berfikir untuk lima abad yang lalu, orang delapan puluhan, lima puluh tahun saja, jadi mereka ingat hanya lima puluh tahun dibelakang mereka, orang sembilan puluhan hanya ingat lima tahun yang lalu saja, orang dua ribuan, mereka hanya ingat lima hari yang lalu” Tegas Pak Muhammad disertai tawa.

***

“Apakah kalau Mc Donald membuat burger, itu Mc Donald-nya Langsung atau stafnya dari Amerika ataukah boleh orang Indonesia asal punya hak?” tanya Pak Muhammad kesekian kalinya.
“Siapa saja asal punya hak” jawab seorang pemuda disitu.
Pak Muhammad langsung bertanya; “Apakah Tuhan langsung yang  mencipatakan manusia?”
“ Tidak”
“Siapa yang disuruh bikin Manusia?”
“Bapak” celetuk seorang jema’ah dibarengi gelegar pekikan tawa.
Pak Muhammad tersenyum dan bertanya; “Apakah bapakmu bikin? Dia cuma nyujess saja, bukan bikin namanya”
“Ha ha ha ....”
“Bukan itu yang saya maksud, lebih kreatif lagi. Jadi benar-benar bikin” tambah Pak Muhammad.
“Apakah cukup kun fayakun terus jadi begitu saja? Ataukah Tuhan  mempunyai staf-staf? Mungkin tidak?
“Mungkin”
“ Saya sedang tidak memastikan apa-apa, hanya mengajak anda berfikir. Jadi Tuhan itu Al-Malik atau Maha Raja, Mulk itu kerajaan, kalau Malik itu subyek yang memiliki kerajaan atau kekuasaan. Hurufnya mim, lam, dan kaf, MALAIKAH...., adalah stafnya Allah yang melaksanakan Mulk-Nya Allah. Jadi malaikat ini diperintah oleh Allah, mungkin tidak?
“Mungkin”
“Siapakah Manusia pertama kali yang diciptakan?” Tanya Pak Muhammad.
“Adam”
“Adakah unsur di alam semesta ini yang tidak terkandung didalam Adam?”
“Tidak” Jawab jema’ah mantab.
“Nah, dari makhluk yang sempurna ini sekarang menjadi bangsa Indonesia, menjadi manusia sangat remeh. Ngakunya demokrasi padahal kepentingan, ngakunya hukum padahal kepentingan, ngakunya agama padahal kepentingan, ngakunya naik haji padahal kepentingan. Sebenarnya kepentingan saja, tapi atas nama, atas nama dan atas nama segala macam. Jadi manusia sudah merendahkan dan mengerdilkan dirinya sedemikian rupa sehingga sekarang menjadi bahan tertawaan seluruh alam semesta. Karena manusia sudah tidak mengerti siapa dirinya. Maka cita-citamu apa.???” ucap Pak Muhammad kepada jema’ah akhirnya sambil berpamitan.

***


No comments

Powered by Blogger.