Sejarah Bulan Sebagai Penentu Waktu

Bulan berasal dari bahasa Latin “luna” yang kemudian sering disebut “lunar”. Bulan adalah satu-satunya satelit alam milik Bumi yang merupakan satelit alami terbesar ke-5 di Tata Surya. Bulan yang ditarik oleh gaya gravitasi Bumi tidak akan jatuh ke Bumi disebabkan oleh gaya sentrifugal yang timbul dari orbit Bulan mengelilingi Bumi. Besarnya gaya sentrifugal Bulan sedikit lebih besar dari gaya tarik-menarik antara gravitasi Bumi dan Bulan. Hal ini menyebabkan Bulan semakin menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 cm/tahun.
Asal-usul Bulan tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, para ilmuwan menemukan bukti penting bahwa Bulan berasal dari tabrakan Bumi dengan planet kecil bernama Theira sekitar 3 milyar tahun yang lalu. Tabrakan itu menghasilkan debu yang sangat banyak dan mengorbit di sekeliling Bumi yang kemudian secara berangsur-angsur debu-debu tersebut mengumpul dan berubah menjadi Bulan. Pada awalnya, jarak Bulan pada pertama kalinya hanya sekitar 30.000 mil atau 15 kali lebih dekat dari jarak Bulan dengan Bumi sekarang.
Parmenides dari Elea (abad ke-6 SM) menggambarkan Bulan dalam puisinya sebagai “cahaya asing yang menyinari malam dan berputar mengelilingi Bumi.” Pada baris puisi berikutnya, Parmenides melukiskan karakteristik Bulan yang “selalu memusatkan pandangannya pada sorotan cahaya Matahari.” Orang yang tahu, tentu akan berpendapat bahwa puisi Parmenides tersebut merupakan gambaran nyata dari cahaya Bulan yang sebenarnya hanya lah pantulan sinar Matahari. Baris kedua puisi tersebut benar-benar membuka pengetahuan manusia pada zaman dahulu bahwa bagian Bulan yang bercahaya selalu berhadapan dengan Matahari. Akan tetapi, hal ini tidak begitu berpengaruh terhadap pemahaman mengenai penyebab fisik dari perubahan cahaya Bulan.
Parmenides merupakan satu-satunya orang yang mengetahui (pada saat itu) bahwa bagian Bulan yang bercahaya selalu menghadap ke arah Matahari tanpa menyadari bahwa cahaya Bulan tersebut sebenarnya adalah pantulan sinar Matahari. Ungkapan dari Parmenides ini secara garis besar sudah mampu menuntaskan penjelasan tentang fase-fase Bulan yang kemudian dihubungkan oleh dua orang bernama Vitruvius dan Berosus. Menurut pandangan ini, Bulan memiliki bentuk seperti bola yang salah satu bagiannya bercahaya dan bagian lainnya berwarna biru. Bagian permukaan Bulan yang bercahaya selalu menghadap ke Matahari, terkena sinar dan panas yang cukup besar, terus berada di antara kilauan sinar Matahari. Sementara Bulan melakukan perjalanan melewati bintang-bintang, permukaan Bulan yang tidak bercahaya berangsur-angsur menghadap ke arah Matahari. Oleh sebab itu, bagian yang bercahaya akan selalu mengarah ke sinar Matahari. Sehingga kita bisa mengetahui perubahan fase sebagai penanda pergantian bulan.
Berosus adalah seorang astronom dan astrolog Chaldaean, Babilonia, yang meninggal pada sekitar 300 SM. Hasil penelitiannya baru diketahui kemudian oleh para penulis Yunani dan Roma yang berusaha menjaga dan mempertahankan beberapa catatannya yang masih terpisah-pisah dan belum lengkap. Menurut Vitruvius, Berosus hidup di pulau Cos, di mana ia membuka sebuah sekolah dan memperkenalkan Astrologi kepada masyarakat Yunani. Berosus memberikan sumbangan pengetahuan yang cukup besar dalam perkembangan Astronomi Babilonia dan Yunani.
Mayoritas penduduk Yunani mengikuti teori Anaxagoras dalam menjelaskan penyebab terjadinya fase-fase dan gerhana Bulan. Anaxagoras berasal dari Clazomenae, daerah barat Asia kecil (barat Izmir, kota Turki modern) dan hidup pada sekitar 480 SM. Kemudian Anaxgoras pergi ke Athena, tempat yang memungkinkannya memperoleh dukungan finansial dan fasilitas yang memadai yang berasal dari Pericles, seorang pemimpin poltik di sana. 
Anaxagoras menjelaskan fase-fase Bulan secara tepat dengan berkata bahwa cahaya Bulan diperoleh dari sinar Matahari. Plato menyebut teori tersebut sebagai “sebuah penemuan baru Anaxagoras” yang memaparkan bahwa Bulan menerima cahayanya dari Matahari. Kemudian Hippolytus dan Aëtius berkata bahwa Anaxagoras juga memberikan penjelasan mengenai proses gerhana Matahari yang dimulai dengan masuknya Bulan ke daerah yang terletak di antara Matahari dan Bumi serta proses gerhana Bulan dengan masuknya Bulan ke dalam bayangan Bumi.

No comments

Powered by Blogger.