Kalender Astronomis

    Ilmu astronomi, sangatlah berperan dalam kalender. Hal ini bisa dilihat antara lain dalam menentukan panjang tahunnya, yang menggunakan siklus tropis matahari dan ada yang menggunakan siklus tropis matahari dan ada yang menggunakan siklus sinodis bulan.
      Di samping adanya kalender Aritmatik seperti yang sudah dijelaskan diatas, ada juga kalender Astronomis yang merupakan pembagian kalender berdasarkan dengan mudah atau tidaknya perhitungan. Hal ini dikarenakan rata-rata peredaran bulan tidaklah tepat sesuai dengan
bentuk hilal (new moon) pada awal bulan.
Kalender Astronomik merupakan kalender yang didasarkan pada perhitungan astronomi, yang perhitungannya jelas lebih sulit. Contoh kalender Astronomik adalah kalender Hijriyah dan Cina. Kalender cina (imlek) ini berasal dari zaman dinasti He, tahun 2205-1766 SM. Kalender ini termasuk dalam kategori kalender bulan dengan diadakannya penyisipan bulan. Tarikh ini memang bukan tarikh bulan murni karena disamping berdasarkan peredaran bulan dicocokkan pula dengan peredaran musim yang dipengaruhi letak matahari. Sehingga penanggalan ini dapat digunakan untuk menentukan bulan baru dan purnama, dapat juga untuk menentukan peredaran musim, maka disebut juga Im Yang Lik (Luni Solar Calender).
    Dan pada tahun 1644 M, kalender cina memakai teori astronomi modern yang akhirnya konsep-konsep astronomi barat terkenal dan sampai sekarang pergantian awal bulan dalam kalender awal bulan berdasarkan hari terjadinya saat konjungsi hakiki (Astronomical New Moon).
    Penanggalan Metode Astronomis ini didasarkan pada posisi benda langit saat itu. Sebagai contoh penanggalan Hijriah. Untuk menentukan tanggal satu kita harus melihat bulan sabit. Dan karena lamanya bulan mengelilingi bumi 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik, maka akibatnya jumlah hari dalam sebuah bulan pada penaggalan Hijriah menjadi tidak tentu, kadang 29 dan kadang 30. Karena perputaran benda langit bisa dihitung, maka saat ini dengan penghitungan kita bisa menentukan berapa hari jumlah bulan pada bulan dan tahun tertentu. Namun penghitungannya tidak sesederhana kalender yang menggunakan penghitungan matematis.
    Berbeda dengan penanggalan Masehi maupun Jawa yang matematis, kalender Hijriyah dibangun berdasarkan fakta Astronomis. Orang harus melihat langit untuk menentukan tanggal. Petunjuk yang diberikan Nabi SAW dalam melihat tanggal satu adalah dengan melihat bulan sabit di langit. Karena bukan berbasis penghitungan itulah yang membuat kalender Hijriyah tidak perlu melakukan koreksi sebagaimana kalender Masehi dan Jawa.
    Jika saat matahari terbenam di ufuk barat kita bisa melihat bulan sabit maka saat itulah terjadi pergantian bulan. Malam itu sudah dihitung tanggal 1. Waktu terbit dan terbenam Matahari juga bisa berubah dan berulang secara teratur, bisa lebih cepat atau bisa lebih lambat dari hari sebelumnya Berbeda dengan penanggalan Masehi dimana pergantian tanggal dimulai tengah malam, dalam penanggalan Hijriyah pergantian tanggal dimulai setelah matahari terbenam.
    Meskipun penanggalan Hijriyah adalah fakta astronomis, bukan berarti kita tidak bisa membuat kalender berbasis penanggalan Hijriyah. Perputaran benda-benda langit dibuat sangat teratur oleh Allah SWT sehingga bisa kita hitung (hisab).
                Satu-satunya cara dalam membuat kalender Hijriyah adalah dengan penghitungan (hisab) astronomis. Tidak seperti penanggalan matematis yang gampang, penghitungan kalender Hijriyah sangat rumit, karena harus menghitung posisi matahari, bumi, dan bulan untuk menghitung kriteria kenampakan bulan sabit. Perhitungan astronomi ini pada umumnya menetapkan hilal dianggap sebagai wujud (syah) berdasarkan pada kriteria dasar yang sangat penting ijtima’ harus terjadi sebelum Matahari tenggelam.
        Namun demikian timbul masalah baru terkait dengan matla’ (tempat observasi bulan). Karena posisinya bisa jadi bulan sudah nampak di Saudi namun belum di Indonesia. Oleh sebab itu pembuatan kalender itupun masih menyisakan masalah.
                Oleh sebab itu beberapa kalender Hijriyah tidak berani menyebutkan bahwa tanggal yang dicantumpan sudah pasti karena bisa jadi fakta kenampakan bulan sabit di titik A tidak sama dengan di titik D.

No comments

Powered by Blogger.