Kalender Aritmatis

     Sejak awal peradaban manusia sudah merasakan perlunya sistem pembagian waktu menjadi satuan periode “bulan” dan “tahun” yang lazim disebut Kalender atau Taqwim (Arab). Hal ini dilakukan dengan memberikan nama untuk periode waktu , biasanya hari, minggu, bulan, dan tahun . Nama yang diberikan untuk setiap hari dikenal sebagai tanggal . Periode dalam kalender (seperti tahun dan bulan) biasanya, meskipun tidak harus, disinkronkan dengan siklus Matahari atau Bulan.  Banyak peradaban dan masyarakat telah menyusun kalender, biasanya berasal dari
kalender lain di mana mereka model sistem mereka, sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Penemuan mereka itu akhirnya melahirkan ilmu geometrid an matematika, ilmu ukur dan ilmu hisab (hitung).
    Kalender juga merupakan perangkat fisik (sering kertas). Ini adalah penggunaan yang paling umum dari kata tersebut. sejenis lainnya kalender dapat termasuk sistem komputerisasi, yang dapat diatur untuk mengingatkan pengguna acara mendatang dan janji.
Kalender juga dapat berarti daftar kegiatan yang direncanakan, seperti kalender pengadilan .
Berdasarkan penggunaanya, kalender-kalender yang yang ada di dunia ini dapat dikelompokkan menjadi 3 macam:
⦁    Kalender matahari (Solar Kalender)
⦁    Kalender Matahari (Lunar Kalender)
⦁    Kalender Matahari-Bulan (Lunisolar Kalender)
  
    Selain pembagian seperti diatas, ada pembagian kalender berdasarkan mudah atau tidaknya perhitungan yang digunakan. Berdasarkan pembagian ini, kalender diklasifikasikan menjadi 2 yaitu Kalender Aritmatik dan Kalender Astronomik.
Kalender aritmatik merupakan kalender yang dapat dengan mudah dihitung karena didasarkan ats rumus dan perhitungan aritmatik. Contoh dari kalender ini adalah kalender Masehi.
Kalender aritmetik adalah kalender yang tanggal dapat dihitung hanya dengan cara aritmatika. Secara khusus, tidak perlu untuk membuat pengamatan astronomi atau mengacu pada pengamatan astronomi diperkirakan untuk menggunakan kalender tersebut. Observasi memang menduduki tempat yang inti dalam astronomi, tetapi yang tidak kalah penting adalah teori yang berbasis pemodelan dalam perhitungan yang dibuat berdasarkan dari data observasi yang diperoleh. Karena berdasarkan model yang dibuat, astronom akan dapat memprediksi fenomena yang akan terjadi sehingga dapat disiapkan pengamatannya.
    Berbeda dengan kalender Hijriyah yang merupakan kalender astronomis, kalender Jawa- Islam berbasis matematis, tidak presisi terhadap pergerakan bulan. Oleh sebab itu jika dalam kalender Hijriyah jumlah hari dalam sebulan tidak pasti apakah jumlahnya 29 atau 30, namun di Kalender Jawa bulan-bulan telah ditentukan jumlah harinya.

No comments

Powered by Blogger.