Delapan Macam Fase Bulan dan Pergerakannya

     Fase bulan selalu berubah ubah dan memiliki bentuk serta cahaya yang berbeda beda termasuk Perubahan dari bulan kebulan sabit untuk menjadi bulan purnama lalu akan kembali keposisi sabit satu bulan  yaitu 29 hari.


1.    Fase Pertama
Pada saat Bulan persis berada diantara Bumi dan Matahari ―yaitu pada saat ijtima’― maka seluruh bagian Bulan yang tidak menerima sinar Matahari persis menghadap ke Bumi. Akibatnya, saat itu Bulan tidak tampak dari Bumi. Peristiwa tersebut dinamakan Muhak atau Bulan Mati.
Begitu Bulan bergerak, maka ada bagian Bulan yang menerima sinar dari Matahari terlihat dari Bumi. Bagian Bulan ini terlihat sangat kecil dan berbentuk sabit. Peristiwa ini lah yang disebut dengan Hilal awal bulan.
Dalam posisi (fase) ini, bersamaan dengan gerakan Bulan mengelilingi Bumi, kita melihat bagian Bulan yang terkena sinar Matahari semula sangat kecil berbentuk sabit (crescent) yang semakin hari semakin membesar. Yang harus diperhatikan, dan sering menjadi anggapan umum yang salah adalah bagian Bulan yang gelap adalah semata-mata karena tidak terkena sinar Matahari, bukan karena terhalang Bumi (karena peristiwa Bulan tertutup bayangan Bumi disebut gerhana Bulan, dan kedua peristiwa ini jelas berbeda). Saat Bulan sabit pertama kali dapat dilihat inilah yang disebut Hilal yang menandai awal sebuah Bulan dalam kalender Hijriyah dan kalender bangsa Yahudi (kalender Yahudi juga menggunakan kondisi hilal ini sebagai hari pertama dari sebuah bulan). Dalam ilmu Astronomi, proses semakin besarnya Bulan ini dinamakan waxing crescent moon.
Bulan baru sebetulnya terbit di sebelah timur hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari, berada tepat di tengah langit juga sekitar waktu tengah hari, dan tenggelam juga hampir bersamaan dengan tenggelamnya Matahari di barat. Namun, selama sejak terbit sampai hampir tenggelam, kita tidak dapat melihat Bulan Sabit (Hilal) ini karena intensitas cahayanya kalah jauh dengan sinar Matahari. Baru ketika menjelang hari tenggelam, intensitas cahaya Matahari semakin lemah, sehingga tampaklah Bulan Sabit (Hilal) tersebut.
2.    Fase Kedua
Semakin jauh Bulan bergerak meninggalkan titik ijtima’, semakin besar pula cahaya Bulan yang tampak dari Bumi. Hal ini disebabkan adanya bagian Bulan yang terkena sinar Matahari terus bertambah besar sampai pada suatu posisi di mana Bulan kelihatan separuh. Ini terjadi sekitar tujuh hari kemudian setelah bulan mati, Bulan akan tampak dari Bumi dengan bentuk setengah lingkaran. Bentuk seperti ini disebut Kwartir I atau Tarbi’ Awwal (Kuartal Pertama).
Bila pada kondisi fase pertama Bulan segera menyusul tenggelam mengikuti tenggelamnya Matahari beberapa menit kemudian, pada fase kedua ini Bulan baru tenggelam sekitar enam jama kemudian setelah tenggelamnya Matahari atau sekitar tengah malam. Tenggelamnya Bulan pada fase ini tidak lain adalah akibat dari gerakan rotasi Bumi pada porosnya selama kurang lebih 24 jam. Bulan lebih lambat sekitar 6 jam daripada Matahari. Pada kondisi ini Bulan terbit dari sebelah timur ketika sekitar tengah hari, berada tepat di tengah langit kita pada saat sekitar tenggelamnya Matahari, dan tenggelam di ufuk barat sekitar tengah malam.
3.    Fase Ketiga
Dalam beberapa hari berikutnya, Bulan akan tampak semakin membesar. Dalam istilah Astronomi, fase ini disebut waxing gibbous moon atau waxing humped moon. Waktu terbit Bulan menjadi semakin melambat dibandingkan dengan Matahari. Bulan terbit pada sekitar jam 15.00, tepat di tengah langit kita pada sekitar 21.00, dan tenggelam pada sekitar jam 03.00 pagi.
4.    Fase Keempat
Kemudian pada pertengahan Bulan (sekitar tanggal 15 bulan Qomariyah), sampailah pada saat di mana Bulan pada titik oposisi dengan Matahari ―yaitu saat istiqbal―. Pada saat ini, Bumi persis sedang berada di antara Bulan dan Matahari. Bagian Bulan yang sedang menerima sinar Matahari hampir seluruhnya terlihat dari Bumi. Akibatnya Bulan tampak seperti bulatan penuh. Peristiwa ini dinamakan Badr atau Bulan Purnama.
Pada kondisi purnama, Bulan terlambat 12 jam daripada Matahari. Ini berarti Bulan akan terbit bersamaan dengan tenggelamnya Matahari, berada tepat di tengah langit kita pada tengah malam, dan tenggelam saat Matahari terbit. Bila Bulan betul-betul pada posisi yang segaris dengan Bumi dan Matahari dalam kondisi ini, maka akan terjadi gerhana Bulan di tempat tersebut karena bayangan Bumi tepat menutupi Bulan.
5.    Fase Kelima
Sejak purnama sampai dengan terjadinya gelap total tanpa Bulan, bagian Bulan yang terkena sinar Matahari kembali mengecil di bagian dari sisi lain dalam proses waxing gibbous moon. Dalam Astronomi, proses ini disebut waning sehingga Bulan yang berada dalam kondisi ini dinamakan waning gibbous moon atau waning humped moon. Pada fase ini, Bulan sekitar 9 jam lebih awal daripada Matahari. Ini berarti Bulan terbit di sebelah timur pada sekitar pukul 21.00, berada tepat di tengah langit kita pada sekitar jam 03.00 pagi, dan tenggelam pada saat sekitar jam 09.00.
6.    Fase Keenam
Sekitar 3 minggu setelah hilal, bagian permukaan Bulan akan tampak separuh kembali (setengah lingkaran). Namun, bagian yang tampak dari Bumi ini arahnya kebalikan dari kuartal pertama. Fase yang demikian dinamakan kuartal terakhir atau kuartal ketiga. Pada fase ini, Bulan terbit lebih awal sekitar 6 jam daripada Matahari. Ini berarti Bulan terbit di sebelah timur pada sekitar pukul 24.00 (tengah malam), tepat berada di tengah langit kita pada sekitar Matahari terbit, dan tenggelam di ufuk barat pada sekitar tengah hari (jam 12.00).
Menurut Muhyiddin Khazin, proses dari tujuh hari setelah bulan purnama yang membuat Bulan akan tampak dari Bumi dalam bentuk setengah lingkaran lagi disebut Kwartir II atau Tarbi’ Sani.

7.    Fase Ketujuh
Memasuki minggu akhir keempat sejak hilal, bentuk permukaan Bulan yang terkena sinar Matahari semakin mengecil sehingga membentuk Bulan sabit tua (waning crescent). Bulan terbit semakin mendahului Matahari dalam rentan waktu sekitar 9 jam. Ini berarti Bulan terbit di ufuk timur pada sekitar jam 03.00, tepat di tengah langit kita sekitar jam 09.00 pagi, dan tenggelam di ufuk barat pada sekitar jam 15.00.
8.    Fase Kedelapan
Pada posisi ini, Bulan berada pada arah yang sama terhadap Matahari. Bagian Bulan yang terkena sinar Matahari adalah yang membelakangi Bumi. Dengan demikian, bagian Bulan yang menghadap ke Bumi semuanya gelap. Ini merupakan kondisi tanpa Bulan, di mana pada fase ini Bulan dan Matahari terbit dan tenggelam hampir bersamaan. Dengan kata lain, Bulan terbit di ufuk timur sekitar jam 06.00, berada di tengah langit kita pada sekitar jam 12.00 (tengah hari), dan tenggelam di ufuk barat pada pukul 18.00. Karena sisi gelap Bulan yang menghadap kita, maka kita tidak dapat melihat Bulan kecuali bila terjadi gerhana Matahari. Dalam terminologi ilmu Astronomi, peristiwa ini disebut konjungsi dan terjadi bulan baru. Menurut kalender China, kondisi seperti ini juga dijadikan sebagai tanda dari munculnya awal sebuah bulan.
Fase-fase Bulan ini dapat dipergunakan dalam penentuan waktu bulanan selama satu tahun. Jenis kalender yang menggunakan Bulan sebagai acuan disebut kalender Bulan (Lunar Calender). Perhitungan ini dilakukan dengan melihat perubahan fase-fase Bulan setiap harinya selama 1 bulan. Dengan begitu, jumlah hari dapat dilihat berdasarkan bentuk permukaan Bulan yang tampak dari Bumi.
Gambar fase-fase Bulan:












        Awal bulan ditandai dengan munculnya hilal (bulan sabit kecil) karena pada permukaan Bulan yang berbentuk sabit tersebut sinar Matahari yang mengenai Bulan dipantulkan. Kemudian sinar tersebut bertambah semakin besar dan mencapai puncaknya pada Bulan purnama. Setelah Bulan purnama, sinar Matahari yang diterima dan dipantulkan Bulan akan semakin mengecil dari hari ke hari dengan arah yang berlawanan. Pada hari-hari akhir bulan, Bulan semakin tidak tampak dan menjadi Bulan mati. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sinar Matahari yang dipantulkan Bulan.
Fase-fase Bulan yang berlangsung secara teratur tiap bulannya memberikan kemudahan bagi manusia untuk membuat sistem waktu. Sistem waktu ini berupa perhitungan jumlah hari setiap bulan yang mengikuti siklus sinodis Bulan. Artinya, meskipun Bulan telah melakukan perputaran sebesar 360º, masih belum dianggap memasuki awal bulan baru. Penyebabnya tidak lain karena perputaran 360º ini hanya sampai pada rentan waktu di mana Bulan berada pada posisi bulan tua. Sedangkan untuk memasuki bulan baru, hilal harus dapat dilihat. Secara otomatis harus ada beberapa hari tambahan dari masa bulan tua untuk berubah menjadi hilal. Oleh sebab itu, siklus semacam ini dinamakan siklus visibilitas hilal (meminjam istilah Moedji Raharto).
      Pergantian hari dalam penanggalan ini tidak bergantung pada meridian rotasi Bumi, tapi ditentukan oleh kedudukan Matahari. Konsep waktu dalam penanggalan Bulan (terutama kalender Hijriyah umat Islam) menggunakan benda langit yang sebenarnya. Pergantian bulan ditentukan dengan visibilitas hilal dan berdasarkan teori serta pengalaman empiris. Visibilitas hilal hanya terjadi bila Bulan telah melewati ijtima’ atau konjungsi. Pada saat kedudukan Bulan dan Matahari di langit berdekatan, visibilitas hilal memerlukan kondisi Matahari terbenam sehingga penentuan waktu berdasarkan sistem ini memang konsisten karena pergantian awal bulan dan hari berlangsung pada saat Matahari terbenam.

No comments

Powered by Blogger.