Masyarakat Jawa Sebelum Datang Islam

Masyarakat jawa adalah masyarakat yang kuat. Mereka hidup mengandalkan ketahanan fisik dan keberaniannya dalam berjuang melawan keganasan alam. Mereka juga mempelajari gejala-gejala alam seperti, panas dan dingin, hujan dan kekeringan, dan semua yang terjadi menjadi perhatian mereka secara natural. Mereka terus mempelajari gejala alam serta kekuatan alam yang tersembunyi dibaliknya, akhirnya mereka mampu mengenal dan memahami kekuatannya sendiri. Dari kedekatannya dengan alam seperti akhirnya timbul pemahaman bahwa setiap gerakan, kekuatan dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk yang berada disekitarnya. Anggapan adanya kekuatan alam dan roh makhluk halus ini disebut animisme. Menurut suyono dibagi menjadi dua yaitu: fetitisme adalah pemujaan kepada benda-benda berwujud yang tampak memiliki jiwa atau roh, dan spiritisme adalah pemujaan terhadap roh leluhur dan makhluk hidup lain yang ada di alam.[1]
      Pada buku islam dan kebudayaan jawa Hj. Ismawati menerangkan bahwa Jawa pernah mengalami mutasi pertama atau lebih tepat disebut indianisasi. Sebenarnya kemungkinan adanya pengaruh india tidak pernah terdeteksi oleh para peneliti Eropa sebelum abad ke-19. Raffles mengangkat indianisasi menjaid topik yang menarik dengan mengaitkan antara Jawa dan India. Gagasan indianisasi ini dilanjutkan oleh para peneliti Belanda yang lain, yaitu J.L.A.Brandes, H.Kern, N.J Krom, W.F. Stutterheim. Mereka berjasa dalam menginterpretasikan masa lampau Jawa berdasarkan pengetahuan tentang India Kuno. Sekarang perlu dipertanyakan apakah tradisi Jawa masih menyimpan bekas-bekas persentuhan dengan Hindu atau India. Terdapat paling sedikit tiga petunjuk untuk mengapresiasi bagaimana persentuhan budaya tersebut, yang telah meresap dalam mentalitas masarakat Jawa. Pertama, asal-usul suku bangsa Jawa yang dijelaskan oleh C.C.Berg dalam bentuk legenda tentang seorang bernama Aji Saka. Seorang muda putra Brahmana dari tanah India. Kedua, penafsiran indianisasi yang lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam naskah Jawa abad 16, Tantu Panggelaran yang merupakan sejenis buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Jawa. Ketiga, sebagai kelanjutan dari teori mutasi perlu dicatat bahwa nama tempat di Pulau Jawa yang berasal dari Bahasa Sansekerta, yang membuktikan adanya kehendak untuk menciptakan kembali geografi India yang dianggap keramat itu.[1]




[1] Hj. Ismawati dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, Yogyakarta:Gama Media, 2000, hal 10-12




[1] Selengkapnya lihat Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam etika & tradisi Jawa, Malang:UIN Malang Press, Cetakan 1, 2008, hal. 44-50
[2] Hj. Ismawati dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, Yogyakarta:Gama Media, 2000, hal 10-12

No comments

Powered by Blogger.