Konsep Penanggalan Jawa Asapon
Secara
astronomis, kalender Jawa tergolong mathematical calendar, sedangkan kalender
Hijriah astronomical calendar. Mathematical atau aritmatical calendar merupakan
sistem penanggalan yang aturannya didasarkan pada perhitungan matematika dari
fenomena alam. Kalender Masehi juga tergolong mathematical calendar. Adapun
astronomical calendar merupakan kalender berdasarkan fenomena alam sendiri
seperti kalender Hijriah dan kalender Cina.
Pada tarikh Jawa I, sebelum tahun 78 M terdapat nama-nama bulan di
Jawa yang
tertulis dalam prasasti-prasasti yang berdasarkan agama Hindu dengan
bahasa Sansekerta. Adapun nama-nama
bulan itu adalah Srawana, Bhadrapada,
Aswina, Kartika, Margasira, Pusya, Mukha, Phalguna, Caitra, Waishaka, Jyestha,
dan Asahda. [1] Sistem
Penanggalan Jawa lebih lengkap dan komprehensif apabila dibandingkan dengan
sistim penanggalan lainnya, lengkap dan komprehensifnya adalah suatu pembuktian
bahwa ketelitian Jawa dalam mengamati kondisi dan pengaruh seluruh alam semesta
terhadap planet bumi seisinya termasuk pengaruh kepada pranata kehidupan
manusia.
Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, dan budaya Hindu-Buddha Jawa yang perhitungannyan didasarkan pada bulan menbelilingi
matahari. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus
mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus
pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran[2].
Adapun
dalam tahun Jawa mempunyai beberapa ketentuan yaitu:[3]
a.
Setiap 15 windu atau 120[4] tahun meliputi 15 x 2835 hari = 42525 hari.
b.
Satu
kebulatan masa tahun Hijriyah adalah 30 tahun menurut ketetapan umum, meliputi
30 x 354 + 11 hari = 10631 hari.
c.
Setiap
120 tahun meliputi 4x 10631 hari 42524 hari.
Dari perhitungan di atas bahwa setelah 120 tahun
maka akan terpaut 1 hari dari tahun Hijriyah, maka setiap 120 tahun maka harus
di samakan kembali keduanya dengan jalan mengganti tahun kabisat menjadi tahun
basithoh. Pergantian selama 120 tahun ini disebut dengan wuku.[5]
Adapun cara
perhitungan Penanggalan Jawa Islam adalah:[6]
Tahun Saka sekarang adalah = 1431 + 512 = 1943 J
1.
Tentukan tahun Jawa (tahun Hijriyah + 512[7] tahun)
2.
Tahun Jawa di bagi 8[8]
3.
Sisa pembagian
apabila:
a.
0/8; 6: berarti tahun Ba, 1 Suro jatuh pada hari Rabu Kliwon
b.
1; 7: berarti tahun Wawu, 1 Suro jatuh pada hari Ahad Wage
c.
2; 8: berarti tahun Jim Akhir, 1 Suro jatuh pada hari Kamis Pon
d.
3; 1: berarti tahun Alip, 1 Suro jaruh pada jatuh Selasa Pon
e.
4; 2: berarti tahun Ehe, 1 Suro jatuh pada hari Sabtu Paing
f.
5; 3: berarti tahun Jim Awal, 1 Suro jatuh pada hari Kamis Paing
g.
6; 4: berarti tahun Ye, 1 suro jatuh pada hari Senin Legi
h.
7; 5: berarti tahun Dal, 1 suro jatuh pada hari Sabtu Legi
Setelah
diperoleh
hari dan pasaran pada tanggal 1 Suro, maka untuk tanggal-tanggal pada bulan-bulan berikutnya tinggal menambahkan
perbedaan hari dan pasaran antara tanggal
1 Suro dan pada tanggal-tanggal bulan berikutnya itu.
Perlu
diketahui dalam penanggalan Jawa Islam, tahun Dal dianggap mempunyai
keistimewaan. Selama tahun Jawa Islam, setiap tanggal 12 bulan Mulud tahun Dal,
jatuh pada hari Senin Pon. Agar tanggal 12 Mulud tahun Dal tetap jatuh pada
hari Senin Pon, maka tahun Je dan tahun Dal yang sebenarnya tahun panjang (wuntu) dijadikan tahun pendek. Jumlah
hari dalam tahun dal tidak urut seperti tahun
Jawa Islam yang lainnya, yaitu 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29,
30, 30.[9]
[1]
Tjokorda Rai Sudharta, et al, Kalender
301 Tahun (Tahun 1800 s/d 2100), Balai Pustaka: Jakarta, 2008., hlm. 20
[2]
Ibid
[3]
Slamet Hambali, Almanak Sepanjang Masa
(Sejarah Sistem Penanggalan Masehi, Hijriyah Dan Jawa ), op. cit., hlm. 50
[4]
120 : 15 = 8 tahun = 1 windu = 2835
hari.
[5]
Ibid.
[6]
Ibid,. hlm. 52
[7] Selisih pergantian tahun saka 1555 dengan
tahun 1043 H (1555-1043)
[8] Tahun jawa dibagi dalam satu masa yang meliputi 8 tahun yang dinamakan windu yang pada
setiap tahunnya berbeda, adapun namanya adalah: Alif
((ا, Ehe (ه), Jim awal ( ج ), Ye ( ز ), Dalد) ), Be ( ب ), Wawu (و ), Jim
akhir (ج )
[9] Kangjeng
Pangeran Karya Tjakraningrat, Kitab
Primbon Qamarrulsyamsi Adammakna, Ngayogyakarta: CV. Buana Raya 1990, hlm.
35

a. 0/8; 6: berarti tahun Ba, 1 Suro jatuh pada hari Rabu Kliwon
ReplyDeleteb. 1; 7: berarti tahun Wawu, 1 Suro jatuh pada hari Ahad Wage
c. 2; 8: berarti tahun Jim Akhir, 1 Suro jatuh pada hari Kamis Pon
d. 3; 1: berarti tahun Alip, 1 Suro jaruh pada jatuh Selasa Pon
e. 4; 2: berarti tahun Ehe, 1 Suro jatuh pada hari Sabtu Paing
f. 5; 3: berarti tahun Jim Awal, 1 Suro jatuh pada hari Kamis Paing
g. 6; 4: berarti tahun Ye, 1 suro jatuh pada hari Senin Legi
h. 7; 5: berarti tahun Dal, 1 suro jatuh pada hari Sabtu Legi
maksude piye ki kang mas..